Tarling is Darling, Sebuah Film Realita Kehidupan Dibalut Nuansa Tarling Dangdut

OkeDangdut – Film dokumenter Tarling is Darling menjadi salah satu pemenang pada ajang Taiwan International Documentary Festival /TIDF yang diselenggarakan pada tanggal 4-13 Mei 2018 dalam kategori Asian Vision Competition dengan mendapatkan Special Jury Mention. TIDF merupakan wadah para penggiat film dokumenter yang banyak menyoroti tentang kehidupan sosial dan human interest. Film yang disutradarai oleh Ismail Fahmi Lubish ini, bercerita tentang sisi lain kehidupan yang dibalut nuansa tarling dangdut.

Ismail Fahmi Lubish saat menerima penghargaan Asian Vision Competition – Special Jury Mention TIDF 2018 / FB TarlingisDarling

“Tarling Dangdut, musik yang sexy dan menggoda. Indonesia harus bangga dengan musik asli Indonesia, suling sunda, gendangan jaipongan, intonasi yang konstan khas gamelan, gitar yang melengking adalah perpaduan kontemporer musik ini berkembang sesuai jamannya. Ini bukan film tentang musik Tarling dangdut, ini tentang kehidupan bernuansa Tarling Dangdut.” ujar Ismail yang merupakan alumni Institut Kesenian Jakarta jurusan film & penyutradaraan dalam salah satu postingannya.

Ismail Fahmi Lubish diskusi bersama para pembuat film di ajang TIDF 2018 / FB TarlingisDarling

Membuat film yang lepas dari tema dan karakter monoton tidaklah mudah. Tarling is Darling ini dibuat dengan semangat untuk bebas dari stereotype film dokumenter yang selalu melibatkan narasi voice over dan wawancara karakternya.

Bermodal tekad, Ismail bersama tim telah menyajikan sebuah film yang menghadirkan adegan-adegan yang lebih jujur. Film dokumenter ini diproduksi dalam jangka waktu yang tidak pendek, proses produksi film ini sudah berjalan dari 2014 hingga 2017, dengan tujuan untuk merayakan hidup. Selama 3 tahun, tim Tarling is Darling berhasil memperoleh kepercayaan penuh dari karakter-karakter di film ini untuk merekam momen-momen paling intim mereka dalam menghadapi kekalahan dan kemenangan.

Berbicara tentang literasi, dalam postingan akun Fb @Tarlingisdarling, Ismail mengatakan bahwa menjadi sebuah kebanggaan bisa berkenalan dengan para pecinta Tarling is Darling di Taiwan yang menyukai tokoh Jaham dan penyanyi Dewi Kirana serta menjadikan filmnya sebagai bahan studi bagi mereka tentang Indonesia.

Bisa jadi Tarling is Darling karya Ismail Fahmi Lubis ini menjadi literasi nontekstual dan referensi lain semisal buku kajian dangdut karya Andrew N Weintraub berjudul Dangdut : Musik, Identitas, dan budaya Indonesia (Baca juga :  Dangdut Stories, Andrew N Weintraub) yang selalu digadang-gadang dalam pencarian literatur musik dangdut, atau buku esai biografi para penikmat musik dangdut yang baru dirilis (2018) berjudul Goyang Aksara yang  diterbitkan oleh OM Manata bersama Bilik Literasi atau juga sumber lain yang jarang kita temukan untuk bahan kajian tentang budaya Indonesia khususnya musik dangdut yang terus berkembang. Semua ini menarik untuk disimak. Dilansir pula dari situs TIDF, film lain asal Indonesia yang mendapat penghargaan dalam kategori yang sama berjudul Canine (Sihung) oleh Esa Hari Akbar.

Berikut sinopis film Tarling Is Darling

‘Tarling is Darling’ Musik tradisional ‘tarling dangdut’ di Indramayu, sebuah daerah di pulau Jawa di Indonesia terkenal di antara segala usia karena tarian erotis dan penyanyi yang berpakaian minim. Sudah sekian lama, ini adalah aib bagi para ulama yang menginginkannya terlarang. Jaham, penulis lagu tarling dangdut , dan Ipung, produser musik, merekrut dan meluncurkan bakat baru yang bermimpi menjadi terkenal. Dikelilingi oleh wanita muda, membuat istri jaham cemburu dan sakit. Namun tantangan yang nyata bagi Jaham berasal dari ulama yang ingin dia menulis lagu-lagu dangdut Islami. Dengan bantuan seorang penyanyi erotis, Jaham menulis karya religinya.

Yuk kita lihat salah satu dari beberapa teaser/trailer Tarling is Darling

(Visited 110 times, 1 visits today)

About The Author

You might be interested in

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *